MEDIA HIBURAN, INFORMASI dan PENDIDIKAN DI KABUPATEN SEKADAU

Selasa, 03 Maret 2015

CATATAN PERJALANAN RADIO DERMAGA 100,9 FM  Bagian 1 (dari 3 tulisan)



Kreativitas-Kecerdasan: Sehubungan dengan ketidakfahaman dengan Uskup Sanggau, berkaitan dengan penggunaan dana yang saya dapat selaku pimpinan radio, tanggal 31 Maret  2011 saya berhenti dari Radio DRP dan mendirikan radio baru, PT. Radio Derap Marga Dirgantara 100,9 FM.  Turut bersama saya, Mbak Ika dan Ema. Kemudian bergabung pendatang baru, Moktar dan Luwi di pertengahan tahun 2010. Modal radio ini adalah dari Bupati Sekadau, Bpk Simon Petrus S.Sos,M.Si dalam bentuk kerjasama media sebagai  penyebaran informasi pembangunan Kabupaten Sekadau tahun 2010. Secara formal yuridis dalam akte notaris, saham-sahamnya terbagi dalam presentase ke teman-teman walaupun presentasenya kecil.
Sekedar catatan sejarah, tanggal 9 Agustus 2008 saya mendapat telpon dari Bupati Sekadau. Bupati tanya tentang keperluan dana yang diperlukan untuk membangun radio FM seperti  proposal yang saya ajukan sebelumnya?
Saya langsung jawab dalam telpon, perlu 150 juta. Beliau minta saya datang ke Kantor berkonsultasi. Saya diminta melaporkan rencana proposal ini kepada Uskup Sanggau. Mungkin dana bantuan bisa dicairkan dalam penghujung tahun 2008 ini.  Dua hari kemudian saya menghadap uskup Sanggau dan Uskup kemudian minta saya yang menganalisa, membuat surat perjanjian atau keperluan lainnya. Saya berkonsultasi pada Pak Anwar, selaku Kasubag Humas dan protokoler. Kami kemudian menghadap Pak Nurhadi, selaku Kabag Umum. Pak Nurhadi menyampaikan bahwa bantuan tidak bisa diberikan tahun ini sebab tidak dianggarkan dalam APBD maupun ABT. Akan dianggarkan tahun 2009.
Saya diminta membuat proposal lagi untuk kerluan ini. Proposal saya tembuskan kepada Uskup Sanggau. Tahun 2009 langsung dikabulkan oleh Bupati. Di sisi lain, radio Dermaga Ria Persada menjadi anggota SIGNIS sebuah lembaga media Katolik di bawah Propaganda Fidei Roma, berpusat di Belgia. Saya sendiri menjadi Ketua Tim Screening untuk pembuatan/pengajuan  proposal anggota, terpilih pada rapat tahunan 2006 di Surabaya. SIGNIS di Indonesia saat itu terdiri dari 33 anggota.
Tahun 2007  proposal (yang umumnya untuk pembuatan program siaran agama dan pembelian alat) saya dikabulkan sebesar U$ 2.500. Dana ini sesuai dengan ketentuan harus masuk melalui rekening Keuskupan Sanggau di KWI. Tahun 2008, dapat lagi U$ 6.500; Tahun 2009 proposal SIGNIS dikabulkan lagi sebesar U$ 5.000  dan tahun 2010, sebesar U$ 3.600.

Total proposal yang dikabulkan U$ 17.600 Sayang saya tidak bisa menggunakannya untuk pembuatan program dan pembelian alat. Fihak Keuskupan hanya memberikan Rp.20.jta cash untuk membeli Transmitter FM yang saya gunakan dari Gereja. Sisa dana ditahan/diambil oleh Keuskupan Sanggau. Semua proposal harus dalam bahasa Inggris. Tahun 2010, saya mengundurkan diri dari keanggotaan SIGNIS dan otomatis berhenti sebagai KETUA TIM SCREENING.

Cerita awal  tentang Proposal ke Pemda ...Akhir Nopember 2009, saya menandatangani MOU dengan Kabag Umum dan Sekretaris Daerah. Beberapa hari kemudian, tanggal 15 Desember 2009 saya menandatangani Kwitansi Pembayaran.  Tanggal 29 Desember 2009, saya mendapat informasi dari Bambang, bagian keuangan, bahwa uang tersebut sudah diambil oleh Pastor Leo bersama Pastor Adu. Saya langsung menelpon Bupati Sekadau. Bupati mengatakan bahwa saya bisa mengajukan proposal ke Uskup untuk meminta dana tadi guna mendirikan radio di frekuensi FM. Saya jawab bahwa apa yang sudah masuk ke keuskupan, tidak bisa keluar lagi untuk radio. Dana saya dari SINGIS juga tidak bisa diambil. Dengan agak emosi kemudian saya telpon Pastor Bartolo. Pastor Bartolo mengatakan bahwa dia nggak tahu menahu soal itu. Saya kemudian telpon  Pastor Leo. Pastor Leo menjelaskan bahwa dia disuruh uskup saja bersama Pastor Adu. Tiga hari kemudian, saya menceritakan persoalan ini kepada Pastor Fritz, mantan ketua KOMSOS Sanggau, (saya  sering berkonsultasi masalah radio dengan beliau, walaupun tidak lagi aktif di KOMSOS). Tepat 7 hari kemudian, saya berangkat ke Sanggau meminjam mobil PT BATUR, ditemani pak Paulus Keker, Ika, Ema. Saya diceramah oleh Pastor Bartolo tentang Radio yang membuat suasana panas dan tegang, karena saya marah dan memukul meja di ruang tamu Keuskupan. Saya sebenarnya ingin bertemu dan marah dengan  Uskup, namun beliau tidak mau bertemu. Terpaksa saya berhadapan dengan Pastor Bartolo, teman adik kelas yang juga sahabat karib  saya di seminari Nyarumkop  tahun 1982-1985. Saya katakan bahwa Bapak Uskup hanya berani berbicara di belakang, penakut dan tidak konsekuen dengan perkataannya. Saya marah dan mengancam pastor Bartolo dengan memukul meja dan mengambil kapak dari dalam tas saya (yang memang ada  dalam tas kerja saya, juga ada palu dan obeng  dalam tas tersebut).  Saya hanya menggertak, tidak bermaksud mencelakai, atau mengancam  dan membuat mereka berpikir 2 kali kalau lain kali berani main curang di kemudian hari . Namun kondisi akhirnya  berakhir damai dan saya minta hak-hak saya yang belum dibayarkan.. Saksi yang hadir di keuskupan waktu itu: Ika,Pak Keker, Ema, Pastor Leo)
Sehari kemudian, saya menghadap Bupati Sekadau di rumahnya. Pak Bupati menjawab meminta saya tidak usah memikirkan dana yang sudah masuk ke Bapak Uskup. Tahun 2010, Bupati akan beri jumlah yang sama untuk membuat radio baru.  Saya berkordinasi dengan Iwan dan Kabag Umum. Pertengahan Tahun 2010, dana dicairkan 50%, dengan catatan saya harus membuat laporan kegiatan sesuai dengan dana tadi. Desember 2010, dana dicairkan 50% lagi dan saya memesan perangkat Radio FM dengan Sutrisno. Bulan Februari radio sudah mengudara di frekuensi 100,9 FM. Sebelumnya saya kordinasi dengan pak Hermanto, dari Balai Monitoring Pontianak untuk mendapat alokasi frekuensi ini.

Tanggal 26 Ferbuari 2011 mendapat telpon dari Pastor Leo untuk datang ke Sanggau bertemu Bapak Uskup pada tanggal 28 Februari. Ternyata tanggal  28 Februari diadakan rapat pemegang saham yang memutuskan saham atas nama saya 1 lembar diambil alih oleh  Pastor Bartolo, Pr dan jabatan saya selaku penanggung jawab radio diambil alih ke pak Paulus Lion. Sebenarnya saya berniat untuk tidak menandatangani, tapi saya pikir lagi agar tidak memperpanjang persoalan, maka saya terima saja keputusan tersebut.
Tanggal 28 Februari 2011, sore harinya saya berkonsultasi dengan Torup Nainggolan, SH untuk membuat Akte Notaris PT. RADIO DERAP MARGA DIRGANTARA   atas nama saya dan kawan-kawan eks penyiar radio lama. Disingkat Radio Dermaga, mengingatkan pamor radio AM  dengan nama Dermagaria Persada. Jadi dengan nama singkatan Dermaga, para fans radio pasti dengan mudah menerimanya. Tanggal 1 Maret diadakan rapat pengurus Radio baru, dimana hadir Ika, Luwi, Ema, Mohtar.  Tanggal 4 Maret, saya berkonsultasi dengan pak Sekda. Beliau setuju dengan gagasan saya untuk mendirikan radio baru di frekuensi FM. Pak Sekda akan menyampaikan rencana ini kepada pak Bupati berkaitan dengan penggunaan dana kompennsasi penyiaran radio tahun 2010.

Dukungan  teman-teman : Atas kebaikan hati pak Nurwanto,SPd, saya mendapat tempat baru untuk studio, berdampingan dengan Sekretariat Universitas Terbuka Pokjar Sekadau. Selama bulan Maret saya memindahkan sarana siaran FM ke studio baru. Sarana radio lama ditinggalkan. Hampir semua perlengkapan radio yang saya beli atau saya usahakan, saya bawa serta ke studio baru.  Tanggal 30 Maret 2011 siaran   radio di tempat baru dimulai di frekuensi  FM. Sebelumnya memang sudah mengudara di studio lama. Bergabung  menambah crew: Paris SH (marketing BRI Sekadau), Suharni, Hermanto ST, Nopan (maintaining) Sanggau/Sance (akhir tahun 2012).

MITRA KERJA DAN JARINGAN:
Menjalin persahabatan dengan orang asing...speaking english, of course...
Saya membangun jaringan kerja di radio sejak masuk di radio Dermagara Ria Persada. Saat saya baru masuk, saya kontak dengan hampir semua kedutaan Eropa dan AS. Tahun 2000-2002 mendapat kerja sama dengan UNESCO dan Kedutaan Denmark dalam bentuk equipmemnts (peralatan pendukung siaran) dan training. Tidak banyak radio yang bisa menjalin kerjasama ini. Saya satu-satunya dari radio Kalbar yang mendapat kesempatan ini. Tahun 2001 wakil Dubes Denmark datang ke Sekadau. Sebelumnya Konsultan Unesco untuk Indonesia, datang ke Sekadau bersama   LSM Utan Kayu. Hampir tiap  tahun saya mendapat kunjungan dari orang asing, salah satunya Professor Timo, Dosen Antropologi Universitas Helsinky, Finlandia. Sebelumnya wartawan radio Negara Finlandia, Jame Teki yang saya ajak ke kayu lapis. Tahun 2004 saya mendapat kunjungan 4 mahasiswa dari Canada. Bulan Februari  tahun 2009 kedatangan tamu mahasiswa S3 dari Universitas Missisipi AS, Christeen.  Christin sempat berkunjung ke Senangak, Sungai Lawak dan sekitarnya, saat saya mengadakan Pelatihan CUKK. Januari 2010, Christen hadir saat “peresmian” radio FM di jalan rawak.  Desember tahun 2011, saya bertemu dengan Monique, cewek dari Yayasan God Return Australia yang mensupport Grup Keling Kumang. 8 Maret 2012, Monique hadir ke radio untuk dialog masalah hari perempuan sedunia. Dari sahabat saya orang asing, ini saya mendapat motivasi dan peluang untuk membuat proposal. Saya juga mendapat promosi dari kunjungan ini, yaitu radio Derap Marga Dirgantara, Dermaga FM  yang mereka lihat dan saksinya punya misi pemberdayaan masyarakat adat serta sebagai sarana pelestari budaya dan lingkungan.

PNPM MPd Ruang Belajar Masyarakat 2011-2012: Adalah Petrus Akiat ng, teman adik kelas di seminari Nyarumkop tahun 1983, hadir dan bertemu kembali di Sekadau tanggal 10 Maret 2010 sebagai Fasilitator Kabupaten untuk PNPM MPd.  Salah satu program nya adalah pembentukan RBM tahun 2011 di mana saya menjadi kordinator bidang media.  Studio/kantor radio di jalan Sanggau ini menjadi secretariat RBM. Dalam RBM ini disediakan anggaran untuk pengembangan media radio (komunitas) yang kemudian dikelola oleh radio Dermaga untuk program pemberitaan ekslusif  tentang kegiatan-kegiatan PNPM di 7 Kecamatan. Salah satunya dialog dengan pelaku pnpm, Program ini berjalan 2 tahunan.

Sekretariat Daerah Pemkab Sekadau-Bagian Umum
Pemerintah Kab.Sekadau ternyata menaruh perhatian kepada media dan crewnya. Pemkab.Sekadau mengalokasi anggaran kepada semua media, Radio, Surat Kabar, Majalah, dan TVRI. Kerjasama dengan radio diberi nama KERJASAMA DALAM PENYIARAN INFORMASI PEMBANGUNAN KABUPATEN SEKADAU.

Mitra dari CREDIT UNION PHILOSOPHY PETANI
Adalah Sdr. Vermy, ketua Credit Union Mantiare Rawak menjadi salah satu pendukung dalam gerakan pemberdayaan masyarakat Adat melalui program radio. Di awal tahun 2000 an, mengusulkan nama kegiatan off air radio: Gong Masyarakat Adat yang sampai saat ini masih diteruskan di radio FM ini. Di tahun 2013, Pak Vermy ini secara khusus mensuport program radio ini dalam upaya meningkatkan mutu siarannya yang pro masyarakat adat. Bantuan langsung yang diberikan adalah dari PINJAMAN TOWER 4 stik (20 m)  RADIO eks radio komunitas di rawak. Ini memang menjadi suatu berkat dari Tuhan melalui pak Vermy. Moga Tuhan membalas budi baiknya.
Selain itu, CU KK, masih  mempercayakan radio ini sebagai sarana publikasi hingga akhir tahun 2013. Selain itu masih ada CU Lantang Tipo yang secara rutin menggunakan radio ini untuk membuat pengumuman pendidikan.

Go Green radio ku…Selain punya interest dalam budaya local, saya sendiri tergugah mendengar informasi soal pemanasang global dan perubahan iklim. Tahun 2009, saya memasang baliho di bundaran tugu PKK dengan tulisan GREEN  RADIO FOR SAVING FOREST AND ENVINRONMENT. Juga baliho kerjasama dukungan PKK  terhadap kegiatan go green Radio. Kemudian, saya berdiskusi dengan Saban, mantan Direktur Walhi, untuk mendirikan LSM Institut Manua Punjung, sebuah LSM hijau untuk gerakan pemberdayaan masyarakat pedalaman yang berada dalam wilayah perkebunan sawit. Saya ditunjuk sebagai  Pengurus. Ide ini tentu berguna bagi radio ke depan. Tahun 2011, LSM IMP menjalin kerjasama dengan JKPP, Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif Bogor untuk membuat tata ruang di Kecamatan Nanga Mahap dengan nama SLUP: Suistainable Lands Use Planning selama 6 bulan, dari Oktober 2011 sampai Maret 2012.
Radio Dermaga membuat pemberitaan dan publikasi, melalui acara liputan lapangan dan dialog dengan berbagai stake holders. Saya sendiri dipercaya sendiri dipercaya sebagai tim konsultan dan mediator antara JKPP dan Pemerintah Kabupaten Sekadau. Studio menjadi sekretriat sementara bagi teman-teman JKPP. Melalui program SLUP ini, radio menyiarkan ajakan-ajakan bersahabat dengan alam dan hutan….
Ternyata ajakan ini didengar banyak orang….Adalah USAID Ifacs sebuah lembaga rakyat Amerika yang peduli masalah hutan dan perubahan iklim membuat proyek besar di Kalimantan Barat dan Kalteng. Saya mendapat informasi dari Saban, bahwa ketua program adalah Kristianus Atok, mantan Ketua YPPN Pontianak, yang merekomendasikan sejumlah mahasiswa Canada datang ke Radio beberapa tahun lalu. PemKab. Sekadau menjadi salah satu mitra kerja mereka. Selain itu, USAID Ifacs juga menjajagi kerjasama dengan media. Bulan Mei 2012, diadakan pertemuan dengan Pak Kris yang datang bersedia mampir ke radio dalam perjalanan ke Nanga Pinoh. Tanggal 27 Agustus 2012, pak Kris ditemani pak Donatus sebagai Penanggung Jawab Proyek, mengadakan rapat lanjutan di radio Dermaga bersama sejumlah tokoh masyarakat. Tanggal 28 Agustus, saya ikut menemani kedua tokoh ini mengikuti rapat dengan pemkab sekadau, di ruang rapat Asisten I. Atas saran kedua orang Usaid ini, saya membuat proposal. Tanggal 20 Oktober 2012, saya mendapat e-mail dari Roni bahwa saya diundang untuk mengikuti training media program USAID Ifacs ini yang diadakan di Nanga Pinoh, 22-25 Nopember 2012.  Dalam pelatihan di Nanga Pinoh, saya atas nama radio ditunjuk untuk menjadi Ketua Jaringan Radio Pewarta Perubahan Iklim program tahun 2013-2014. Anggota Jaringan adalah radio Komunitas Suara Melawi, Radio Komunitas Manjing Tarah Ketapang, Kecamatan Jelai, Ketapang dan Radio Komunitas Gema Solidaritas Ketapang. Kesepakatannya radio jaringan ini membuat kesepakatan bersama, yaitu Kemudian masing-masing radio membuat proposal.

23 Nopember 2013 Evaluasi Dengar Pendapat
Tanggal 3 April 2012, saya mengontak Komisi Penyiaran Kalbar, pak Arif untuk mengurus perijinan radio. Atas saran KPI, saya mengirimkan berkas permohonan perijinan ke Pontianak. Tanggal 16 Nopember 2012, saya ditelpon oleh KPI untuk memberitahu bahwa akhir bulan Nopember 2012, akan diadakan EDP, evaluasi dengar pendapat yang saya putuskan tanggal pelaksanaannya pada  23 Nopember. Acara ini dihadiri oleh Ketua Komisi C, DPRD Sekadau, Albertus Pinus S.Sos, M.H,  Kepala Kesbang, Losianus, utusan dari Dinas Perhubungan, tokoh masyarakat, Kades Sungai Ringin dan anak-anak SPP Karya Sekadau.

PINDAH LOKASI….,
Tanggal 1 Nopember 2012, saya dkk memikirkan lokasi baru yang strategis, dengan letak studio yang lebih tinggi posisinya. Saya memilih lokasi di jalan rawak, di Mungguk Ransa..karena menjadi

tempat tertinggi di kota Sekadau. Berkat kebaikan Tuhan melalui Keluarga Pak Dondong, saya diberi lokasi yang menurut saya sangat strategis, di jalan Rawak Km 3, pas di atas bukit..bukit, bersebelahan dengan Mungguk Ransa. Tempat ini cocok untuk radio sebab  berada di 38 mpl (di atas permukaan laut) dengan titik kordinatnya......jadi akan sangat membantu memperjauh daya jangkau pemancar,  apalagi jika didukung tower 40 m. Tanggal 3 Desembern 2012, dimulai dengan pembukaan lokasi menggunakan excavator pak Saharudin, tempat diratakan sesuai dengan keperluan…Lagi lagi Tuhan memberikan berkatNya, melalui pak Sahar yang tidak mematok biaya  sewa alat.
“Pak Nico sudah banyak membantu masyarakat, saya malu kalau saya menyewakan alat ini pada pak Nico, Seharusnya saya menyumbang tuk pak Nico, tutur pak Saharudin (anggota DPRD 2 periode 2004-2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar