Kreativitas-Kecerdasan: Sehubungan
dengan ketidakfahaman dengan Uskup Sanggau, berkaitan dengan penggunaan dana yang saya dapat selaku pimpinan radio,
tanggal 31 Maret 2011 saya berhenti dari Radio DRP dan
mendirikan radio baru, PT. Radio Derap Marga Dirgantara 100,9 FM. Turut bersama saya, Mbak Ika dan Ema.
Kemudian bergabung pendatang baru, Moktar dan Luwi di pertengahan tahun 2010.
Modal radio ini adalah dari Bupati Sekadau, Bpk Simon Petrus S.Sos,M.Si dalam
bentuk kerjasama media sebagai penyebaran informasi
pembangunan Kabupaten Sekadau tahun 2010. Secara formal yuridis dalam akte notaris,
saham-sahamnya terbagi dalam presentase ke teman-teman walaupun presentasenya
kecil.
Sekedar
catatan sejarah, tanggal 9
Agustus 2008 saya mendapat telpon dari Bupati Sekadau. Bupati tanya tentang
keperluan dana yang diperlukan untuk membangun radio FM seperti proposal yang saya ajukan sebelumnya?
Saya
langsung jawab dalam telpon, perlu 150 juta. Beliau minta saya datang ke Kantor
berkonsultasi. Saya diminta melaporkan rencana proposal ini kepada Uskup
Sanggau. Mungkin dana bantuan bisa dicairkan dalam penghujung tahun 2008
ini. Dua hari kemudian saya menghadap
uskup Sanggau dan Uskup kemudian minta saya yang menganalisa, membuat surat
perjanjian atau keperluan lainnya. Saya berkonsultasi pada Pak Anwar, selaku
Kasubag Humas dan protokoler. Kami kemudian menghadap Pak Nurhadi, selaku Kabag
Umum. Pak Nurhadi menyampaikan bahwa bantuan tidak bisa diberikan tahun ini
sebab tidak dianggarkan dalam APBD maupun ABT. Akan dianggarkan tahun 2009.
Saya
diminta membuat proposal lagi untuk kerluan ini. Proposal saya tembuskan kepada
Uskup Sanggau. Tahun 2009 langsung dikabulkan oleh Bupati. Di sisi lain, radio
Dermaga Ria Persada menjadi anggota SIGNIS sebuah lembaga media Katolik di
bawah Propaganda Fidei Roma, berpusat di Belgia. Saya sendiri menjadi
Ketua Tim Screening untuk pembuatan/pengajuan proposal anggota, terpilih pada rapat tahunan
2006 di Surabaya. SIGNIS di
Indonesia saat itu terdiri dari 33 anggota.
Tahun
2007 proposal (yang umumnya untuk
pembuatan program siaran agama dan pembelian alat) saya dikabulkan sebesar U$ 2.500.
Dana ini sesuai dengan ketentuan harus masuk melalui rekening Keuskupan Sanggau
di KWI. Tahun 2008, dapat lagi U$ 6.500; Tahun 2009 proposal SIGNIS dikabulkan
lagi sebesar U$ 5.000 dan tahun 2010,
sebesar U$ 3.600.
Total
proposal yang dikabulkan U$ 17.600 Sayang saya tidak bisa menggunakannya untuk
pembuatan program dan pembelian alat. Fihak Keuskupan hanya memberikan
Rp.20.jta cash untuk membeli Transmitter FM yang saya gunakan dari Gereja. Sisa
dana ditahan/diambil oleh Keuskupan Sanggau. Semua proposal
harus dalam bahasa Inggris.
Tahun 2010, saya mengundurkan
diri dari keanggotaan SIGNIS dan otomatis berhenti sebagai KETUA TIM SCREENING.
Cerita awal tentang Proposal ke Pemda ...Akhir Nopember 2009, saya menandatangani MOU dengan
Kabag Umum dan Sekretaris Daerah. Beberapa hari kemudian, tanggal 15
Desember 2009 saya
menandatangani Kwitansi Pembayaran. Tanggal 29 Desember 2009, saya mendapat informasi dari Bambang, bagian
keuangan, bahwa uang tersebut sudah diambil oleh Pastor Leo bersama Pastor Adu.
Saya langsung menelpon Bupati Sekadau. Bupati mengatakan bahwa saya bisa mengajukan
proposal ke Uskup untuk meminta dana tadi guna mendirikan radio di
frekuensi FM. Saya jawab bahwa
apa yang sudah masuk ke keuskupan, tidak bisa keluar lagi untuk radio. Dana
saya dari SINGIS juga tidak bisa diambil. Dengan agak emosi kemudian saya
telpon Pastor Bartolo. Pastor Bartolo mengatakan bahwa dia nggak tahu menahu
soal itu. Saya kemudian telpon Pastor Leo. Pastor Leo menjelaskan bahwa dia disuruh
uskup saja bersama Pastor Adu. Tiga hari kemudian, saya menceritakan persoalan
ini kepada Pastor Fritz, mantan ketua KOMSOS Sanggau, (saya sering berkonsultasi masalah radio dengan
beliau, walaupun tidak lagi aktif di KOMSOS). Tepat 7 hari kemudian, saya
berangkat ke Sanggau meminjam mobil PT BATUR, ditemani pak Paulus Keker, Ika,
Ema. Saya diceramah oleh Pastor Bartolo tentang Radio yang membuat suasana panas dan tegang, karena saya marah dan
memukul meja di ruang tamu Keuskupan. Saya sebenarnya ingin bertemu dan marah
dengan Uskup, namun beliau tidak mau
bertemu. Terpaksa saya berhadapan dengan Pastor Bartolo, teman adik kelas yang
juga sahabat karib saya di seminari Nyarumkop
tahun 1982-1985. Saya katakan bahwa Bapak
Uskup hanya berani berbicara di belakang, penakut dan tidak konsekuen dengan
perkataannya. Saya marah dan mengancam pastor Bartolo dengan memukul meja dan
mengambil kapak dari dalam tas saya (yang memang ada dalam tas kerja saya, juga ada palu dan
obeng dalam tas tersebut). Saya hanya menggertak,
tidak bermaksud mencelakai, atau mengancam dan membuat mereka berpikir 2 kali kalau lain
kali berani main curang di kemudian hari . Namun kondisi akhirnya berakhir damai dan saya minta hak-hak saya
yang belum dibayarkan.. Saksi yang hadir di keuskupan waktu itu:
Ika,Pak Keker, Ema, Pastor Leo)
Sehari kemudian, saya menghadap Bupati Sekadau di
rumahnya. Pak Bupati menjawab meminta saya tidak usah memikirkan dana yang
sudah masuk ke Bapak Uskup. Tahun 2010, Bupati akan beri jumlah yang sama untuk
membuat radio baru. Saya berkordinasi
dengan Iwan dan Kabag Umum. Pertengahan Tahun 2010, dana dicairkan 50%, dengan
catatan saya harus membuat laporan kegiatan sesuai dengan dana tadi. Desember
2010, dana dicairkan 50% lagi dan saya memesan perangkat Radio FM dengan
Sutrisno. Bulan Februari radio sudah mengudara di frekuensi 100,9 FM.
Sebelumnya saya kordinasi dengan pak Hermanto, dari Balai Monitoring Pontianak
untuk mendapat alokasi frekuensi ini.
Tanggal
26 Ferbuari 2011
mendapat
telpon dari Pastor Leo untuk datang ke Sanggau bertemu Bapak Uskup pada tanggal
28 Februari. Ternyata tanggal 28
Februari diadakan rapat pemegang saham yang memutuskan saham atas nama saya 1
lembar diambil alih oleh Pastor Bartolo,
Pr dan jabatan saya selaku penanggung jawab radio diambil alih ke pak Paulus
Lion. Sebenarnya saya berniat untuk tidak menandatangani, tapi saya pikir lagi
agar tidak memperpanjang persoalan, maka saya terima saja keputusan tersebut.
Tanggal
28 Februari 2011,
sore harinya saya berkonsultasi dengan Torup Nainggolan, SH untuk membuat Akte
Notaris PT. RADIO DERAP MARGA DIRGANTARA
atas nama saya dan kawan-kawan eks penyiar radio lama. Disingkat Radio Dermaga, mengingatkan pamor radio
AM dengan nama Dermagaria Persada. Jadi
dengan nama singkatan Dermaga, para fans radio pasti dengan mudah menerimanya. Tanggal
1 Maret diadakan rapat pengurus Radio baru, dimana hadir Ika, Luwi, Ema, Mohtar. Tanggal 4 Maret, saya berkonsultasi dengan pak
Sekda. Beliau setuju dengan gagasan saya untuk mendirikan radio baru di
frekuensi FM. Pak Sekda akan menyampaikan rencana ini kepada pak Bupati
berkaitan dengan penggunaan dana kompennsasi penyiaran radio tahun 2010.
Dukungan
teman-teman : Atas kebaikan hati pak Nurwanto,SPd, saya
mendapat tempat baru untuk studio, berdampingan dengan Sekretariat Universitas
Terbuka Pokjar Sekadau.
Selama bulan Maret saya memindahkan sarana siaran FM ke studio baru. Sarana
radio lama ditinggalkan. Hampir semua perlengkapan radio yang saya beli atau
saya usahakan, saya bawa serta
ke studio baru. Tanggal
30 Maret 2011
siaran radio di tempat baru dimulai di
frekuensi FM. Sebelumnya memang sudah
mengudara di studio lama. Bergabung
menambah crew: Paris SH (marketing BRI Sekadau), Suharni,
Hermanto ST, Nopan (maintaining) Sanggau/Sance (akhir tahun 2012).
MITRA
KERJA DAN JARINGAN:
Menjalin
persahabatan
dengan orang
asing...speaking
english, of course...
Saya membangun jaringan kerja di radio sejak masuk di
radio Dermagara Ria Persada. Saat saya baru masuk, saya kontak dengan hampir
semua kedutaan Eropa dan AS. Tahun 2000-2002 mendapat kerja sama dengan UNESCO
dan Kedutaan Denmark dalam bentuk equipmemnts (peralatan pendukung siaran) dan
training. Tidak banyak radio yang bisa menjalin kerjasama ini. Saya
satu-satunya dari radio Kalbar yang mendapat kesempatan ini. Tahun 2001 wakil
Dubes Denmark datang ke Sekadau. Sebelumnya Konsultan Unesco untuk Indonesia,
datang ke Sekadau bersama LSM Utan Kayu. Hampir tiap tahun saya mendapat kunjungan dari orang asing,
salah satunya Professor Timo, Dosen Antropologi Universitas Helsinky,
Finlandia. Sebelumnya wartawan radio Negara Finlandia, Jame Teki yang saya ajak
ke kayu lapis. Tahun 2004 saya mendapat kunjungan 4 mahasiswa dari Canada.
Bulan Februari tahun 2009 kedatangan
tamu mahasiswa S3 dari Universitas Missisipi AS, Christeen. Christin sempat berkunjung ke Senangak,
Sungai Lawak dan sekitarnya, saat saya mengadakan Pelatihan CUKK. Januari 2010,
Christen hadir saat “peresmian” radio FM di jalan rawak. Desember tahun 2011, saya bertemu dengan
Monique, cewek dari Yayasan God Return Australia yang mensupport Grup Keling
Kumang. 8 Maret 2012, Monique hadir ke radio untuk dialog masalah hari
perempuan sedunia. Dari sahabat saya orang asing, ini saya mendapat motivasi
dan peluang untuk membuat proposal. Saya juga mendapat promosi dari kunjungan
ini, yaitu
radio Derap Marga Dirgantara, Dermaga FM
yang mereka lihat dan saksinya punya misi pemberdayaan masyarakat adat
serta sebagai sarana pelestari budaya dan lingkungan.
PNPM MPd Ruang Belajar Masyarakat
2011-2012: Adalah Petrus Akiat
ng, teman adik kelas di seminari Nyarumkop tahun 1983, hadir dan bertemu
kembali di Sekadau tanggal 10 Maret 2010 sebagai Fasilitator Kabupaten untuk
PNPM MPd. Salah satu program nya adalah
pembentukan RBM tahun 2011 di mana saya menjadi kordinator bidang media. Studio/kantor radio di jalan Sanggau ini
menjadi secretariat RBM. Dalam RBM ini disediakan anggaran untuk pengembangan
media radio (komunitas) yang kemudian dikelola oleh radio Dermaga
untuk program pemberitaan ekslusif
tentang kegiatan-kegiatan PNPM di 7 Kecamatan. Salah satunya dialog dengan pelaku
pnpm, Program ini berjalan
2 tahunan.
Sekretariat Daerah Pemkab Sekadau-Bagian Umum
Pemerintah Kab.Sekadau ternyata menaruh perhatian
kepada media dan crewnya. Pemkab.Sekadau mengalokasi anggaran kepada semua
media, Radio, Surat Kabar, Majalah, dan TVRI. Kerjasama dengan radio diberi
nama KERJASAMA DALAM PENYIARAN INFORMASI PEMBANGUNAN KABUPATEN SEKADAU.
Mitra dari CREDIT UNION
PHILOSOPHY PETANI
Adalah Sdr. Vermy, ketua Credit Union Mantiare Rawak
menjadi salah satu pendukung dalam gerakan pemberdayaan masyarakat Adat melalui
program radio. Di awal tahun 2000 an, mengusulkan nama kegiatan off air radio:
Gong Masyarakat Adat yang sampai saat ini masih diteruskan di radio FM ini. Di
tahun 2013, Pak Vermy ini secara khusus mensuport program radio ini dalam upaya
meningkatkan mutu siarannya yang pro masyarakat adat. Bantuan langsung yang
diberikan adalah dari PINJAMAN TOWER 4 stik (20 m)
RADIO eks radio komunitas di rawak. Ini memang menjadi suatu berkat dari
Tuhan melalui pak Vermy. Moga Tuhan membalas budi baiknya.
Selain itu, CU KK, masih mempercayakan
radio ini sebagai sarana publikasi hingga akhir tahun 2013. Selain itu masih
ada CU Lantang Tipo yang secara rutin menggunakan radio ini untuk membuat
pengumuman pendidikan.
Go Green radio ku…Selain punya interest dalam budaya local, saya sendiri
tergugah mendengar informasi soal pemanasang global dan perubahan iklim. Tahun
2009, saya memasang baliho di bundaran tugu PKK dengan tulisan GREEN RADIO FOR
SAVING FOREST AND ENVINRONMENT. Juga baliho kerjasama
dukungan PKK terhadap kegiatan go green
Radio. Kemudian, saya
berdiskusi dengan Saban, mantan Direktur Walhi, untuk mendirikan LSM Institut
Manua Punjung, sebuah LSM hijau untuk gerakan pemberdayaan masyarakat pedalaman
yang berada dalam wilayah perkebunan sawit. Saya ditunjuk sebagai Pengurus. Ide ini tentu berguna bagi radio ke depan. Tahun 2011,
LSM IMP menjalin kerjasama dengan JKPP, Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif
Bogor untuk membuat tata ruang di Kecamatan Nanga Mahap dengan nama SLUP:
Suistainable Lands Use Planning selama 6 bulan, dari Oktober 2011 sampai Maret
2012.
Radio
Dermaga membuat pemberitaan dan
publikasi, melalui acara liputan lapangan dan dialog dengan berbagai stake
holders. Saya sendiri dipercaya sendiri dipercaya sebagai tim konsultan dan
mediator antara JKPP dan Pemerintah Kabupaten Sekadau. Studio menjadi
sekretriat sementara bagi teman-teman JKPP. Melalui program SLUP ini, radio
menyiarkan ajakan-ajakan bersahabat dengan alam dan hutan….
Ternyata ajakan ini didengar banyak orang….Adalah
USAID Ifacs sebuah lembaga rakyat Amerika yang peduli masalah hutan dan
perubahan iklim membuat proyek besar di Kalimantan Barat dan Kalteng. Saya
mendapat informasi dari Saban, bahwa ketua program adalah Kristianus Atok,
mantan Ketua YPPN Pontianak, yang merekomendasikan sejumlah mahasiswa Canada
datang ke Radio beberapa tahun lalu. PemKab. Sekadau menjadi salah satu mitra
kerja mereka. Selain itu, USAID Ifacs juga menjajagi kerjasama dengan media.
Bulan Mei 2012, diadakan pertemuan dengan Pak Kris yang datang bersedia mampir
ke radio dalam perjalanan ke Nanga Pinoh. Tanggal 27 Agustus
2012, pak Kris ditemani pak Donatus sebagai Penanggung Jawab Proyek, mengadakan
rapat lanjutan di radio Dermaga bersama sejumlah tokoh masyarakat. Tanggal 28
Agustus, saya ikut menemani kedua tokoh ini mengikuti rapat dengan pemkab
sekadau, di ruang rapat Asisten I. Atas saran kedua orang Usaid ini,
saya membuat proposal. Tanggal 20 Oktober 2012, saya mendapat e-mail dari Roni
bahwa saya diundang untuk mengikuti training media program USAID Ifacs ini yang
diadakan di Nanga Pinoh, 22-25 Nopember 2012.
Dalam pelatihan di Nanga Pinoh, saya atas nama radio ditunjuk untuk
menjadi Ketua Jaringan Radio Pewarta Perubahan Iklim program tahun 2013-2014.
Anggota Jaringan adalah radio Komunitas Suara Melawi, Radio Komunitas Manjing
Tarah Ketapang, Kecamatan Jelai, Ketapang dan Radio Komunitas Gema Solidaritas
Ketapang. Kesepakatannya radio jaringan ini membuat kesepakatan bersama, yaitu
Kemudian masing-masing radio membuat proposal.
23
Nopember 2013 Evaluasi Dengar Pendapat
Tanggal 3 April 2012, saya mengontak Komisi Penyiaran
Kalbar, pak Arif untuk mengurus perijinan radio. Atas saran KPI, saya
mengirimkan berkas permohonan perijinan ke Pontianak. Tanggal 16 Nopember 2012,
saya ditelpon oleh KPI untuk memberitahu bahwa akhir bulan Nopember 2012, akan
diadakan EDP, evaluasi dengar pendapat yang saya putuskan tanggal
pelaksanaannya pada 23 Nopember. Acara
ini dihadiri oleh Ketua Komisi C, DPRD Sekadau, Albertus Pinus S.Sos, M.H,
Kepala Kesbang, Losianus, utusan dari Dinas
Perhubungan, tokoh masyarakat, Kades Sungai Ringin dan anak-anak SPP
Karya Sekadau.
PINDAH
LOKASI….,
Tanggal 1 Nopember 2012, saya dkk memikirkan lokasi
baru yang strategis, dengan letak studio yang lebih tinggi posisinya. Saya
memilih lokasi di jalan rawak, di Mungguk Ransa..karena menjadi
tempat tertinggi di kota Sekadau. Berkat kebaikan
Tuhan melalui Keluarga Pak Dondong, saya diberi lokasi yang menurut saya sangat
strategis, di jalan Rawak Km 3, pas di atas bukit..bukit, bersebelahan dengan Mungguk Ransa. Tempat
ini cocok untuk radio sebab berada di 38
mpl (di atas permukaan laut) dengan titik kordinatnya......jadi akan sangat
membantu memperjauh daya jangkau pemancar,
apalagi jika didukung tower 40 m. Tanggal 3 Desembern 2012, dimulai dengan pembukaan lokasi
menggunakan excavator pak
Saharudin, tempat diratakan sesuai dengan keperluan…Lagi lagi Tuhan memberikan
berkatNya, melalui pak Sahar yang tidak mematok biaya sewa
alat.
“Pak
Nico sudah banyak membantu masyarakat, saya malu kalau saya menyewakan alat
ini pada pak Nico, Seharusnya saya menyumbang tuk pak Nico, tutur pak Saharudin (anggota DPRD 2 periode 2004-2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar